Seberapa “Hijau” Cloud Anda?

25 Sep

Banyak bahasan yang menggambarkan betapa Cloud Computing dapat meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya, sejalan dengan perkembangan pusat data (data center) dari yang dulunya haus daya menuju ke bentuk baru yang lebih ramah lingkungan.

Namun efisiensi energi tersebut hanyalah salah satu poin dari gerakan teknologi “Hijau”. Saat ini telah ada gerakan lain yang sejalan, khususnya adalah awanisasi (cloudification) pusat data.

“Yang dibutuhkan adalah sebuah cara pandang yang lebih luas tentang dampak terhadap lingkungan dari kegiatan pengalihan pusat data ke Awan,” ungkap Eric Woods, analis senior Pike Research. Pike pernah memprediksi bahwa pemindahan TI ke Awan akan dapat menghemat energy sampai sepertiga pada tahun 2020.

Analisis biaya-manfaat (cost-benefit) yang sebenarnya dari proses migrasi ke Awan harus dilihat secara lengkap, lebih dari sekedar berkurangnya tagihan energi. Di mana letak pusat data Awan? Apakah mereka menggunakan fasilitas baru atau bangunan tua diperbaharui? Apakah perusahaan yang melakukan migrasi Awan tersebut melakukan daur-ulang dengan benar? Apakah pusat data tersebut menggunakan energi dari pembangkit yang menggunakan energi terbarukan (renewable energy)? Bagaimana efisiensi mereka dalam penggunaan air? Dan, sama pentingnya, apakah mereka menonjolkan tentang semua ini?

Para penggiat lingkungan seperti GreenPeace telah menyusun sebuah daftar peringkat yang mengumumkan seberapa “Bersih” pusat data, dilihat dari posisi mereka, sumber energi yang digunakan, dan lain sebagainya.

 

Beberapa nama besar – termasuk Akamai, Facebook, Twitter dan Yahoo – mendapat penilaian yang kurang baik pada beberapa kategori, termasuk kategori visibility, yang artinya mereka tidak cukup terbuka mengungkap beberapa kriteria penting. Belum lama berselang, Google telah melangkah maju dibidang ini dengan membuka fakta konsumsi energi mereka dan menyatakan akan menggunakan energi bersih mulai 2012.

“Kita harus lebih memahami dengan baik tentang efisiensi daya dari para penyedia layanan Awan. Jika pusat data mereka masih menggunakan batu bara maka mereka masih dikatogorikan tidak cukup baik. Selayaknya kita menyoroti banyak faktor, dan selalu ada imbal baliknya,” sambung Woods.

Data tahun lalu mengungkapkan bahwa sekitar 1.3 persen dari total konsumsi listrik dunia digunakan untuk menggerakkan data center. Di Amerika angka tersebut bahkan mencapai 2 persen dari total konsumsi listrik negara.

“Kita harus mencermati lebih jauh, lebih dari sekedar melihat efektifitas penggunaan daya (Power Usage Effectiveness), untuk dapat mengukur produktifitas yang nyata,” ujar Woods.

Sumber: http://gigaom.com/cloud/how-clean-is-your-cloud-really/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: