Cloud Computing = Parental Computing?

28 Sep

Si polan kesal. Pulang sekolah dia menemukan kamarnya sudah rapih. Semua baju terlipat dan tersusun rapih dan tumpukan buku dan kertas yang tadinya berserakan seantero kamar sekarang  telah tertata baik dimeja belajarnya. “Aduh Mama… mana dvd Transformer-ku!?” teriaknya. Dalam hati si polan menggerutu, “Kalo mama beres-beres pasti aja ada yang hilang deh,” seraya was-was jangan-jangan mamanya menemukan surat cinta yang dia sembunyikan dibalik kasurnya.

Kita semua pernah mengalami hal seperti ini. Namun cerita diatas hanyalah sebuah metafora dari layanan web yang kita sebut sebagai Cloud. Kebanyakan dari kita pernah merasakan ketidak nyamanan ketika kita login ke Facebook/Tumblr/Twitter/Netflix/Pandora/Gmail, dan menemukan bahwa tampilan antar-muka (interface) telah berubah. Dapat dipastikan bahwa mereka melakukan perubahan tersebut karena mereka yakin, tampilan yang baru lebih baik, tapi kan kita sudah terbiasa dengan tampilan yang lama. “New Twitter? Tapi saya lebih suka Old Twitter!”

Kita selalubergantung pada para penyedia software yang menciptakan ruang digital yang kita huni, namun tatkala email dan dokumen dan musik anda tersimpan di Awan, anda seperti  memberikan kunci kamar anda kepada mereka dan memberi mereka kebebasan untuk menatanya.  Anda membebaskan pengelola untuk menata ruang digital anda.

Netflix, Twitter, dan Google kerap melakukan perubahan pada produk mereka, yang langsung berdampak pada kita karena produk-produk tersebut adalah ruang kita untuk bekerja dan bermain. Suka atau tidak kita harus menerima kondisi ini. Salah satu yang menggemparkan adalah saat Facebook merombak News Feed dan Timeline profile pages mereka. Efeknya langsung dirasakan oleh jutaan penggunanya, startup screen berubah.

Tentu saja khalayak menjerit memprotesnya. Jeritan mereka mengingatkan kita bahwa kita semua, seperti si polan, hanyalah anak-anak dimata para penyedia layanan, sementara mereka menjadi Mama Cloud, yang berhak penuh untuk menata kamar kita. Selama kita masih tinggal dirumah mereka, kita harus patuh pada aturan mereka.

Ketika kepercayaan terhadap lembaga layanan masyarakat mencapai titik terendah, kita menaruh pengharapan kepada para penyedia layanan Cloud, berharap agar mereka dapat melakukan hal yang baik dan adil. Kita kecewa pada perubahan yang dilakukan Facebook karena disatu sisi memicu kejanggalan kognitif (cognitive dissonance): ‘Saya tau saya tidak dapat mempercayai Facebook, namun saya harus berlagak mempercayai Facebook dengan memberikan mereka data yang saya miliki.’  Perubahan yang dilakukan Facebook tersebut menyadarkan kita bahwa pasukan Mark Zuckerberg telah merentas (hacked) otak sosial kita. Zuckerberg meyakini bahwa Facebook menciptakan masyarakat yang “lebih terbuka dan terkoneksi.” Dengan kata lain, dia melakukan semuanya ini untuk kebaikan kita.

Saat saya merenungkan hal ini, saya disadarkan bahwa Cloud membuka peluang untuk memunculkan sesuatu yang baru: parental computing. Hal ini berarti; berakhirnya masa personal computing. Padahal personal computing sendiri merupakan hasil evolusi dari paradigma sebelumnya.

Saat ini, computing power yang kita gunakan berasal dari banyak CPU yang terhubung satu sama lain melalui internet. Kita tidak lagi memiliki rumah-digital pribadi. Alih-alih, sekarang kita kembali tinggal dengan orang tua kita. Gratis namun tidak tanpa konsekuensi.

Kita meyakini teminologi personal computing adalah sebuah label alamiah dari mesin yang kita miliki, namun pada kenyataannya, komputer (atau komputansi) tidak pernah benar-benar personal. Di era 60’an, mainframe berukuran raksasa dari IBM digunakan untuk kepentingan militer, bukan untuk perorangan. Pada tahun 70’an, sekelompok orang yang kebanyakan tinggal tersebar di pesisir San Francisco sepakat untuk membuat komputer menjadi lebih berguna bagi para pengguna peorangan. Sekonyong-konyong kesempatan untuk memiliki komputer secara pribadi, yang tidak menjalankan program melalui koneksi yang lambat menjengkelkan, dapat diwujudkan. Di awal 80’an, berkat prinsip Moore’s Law, komputer menjadi lebih kecil dan murah, dan hal ini mendorong para entrepreneur seperti Steve Jobs dan Steve Wozniak mempromosikan prinsip  ‘computing for the people.’ Merek Apple dan produknya saat itu  menjadi sebuah bukti nyata pergerakan tersebut. Kita mulai menyebut perangkat desktop kita sebagai Personal Computers, alih-alih menyebutnya dengan terminologi teknis yang pernah populer sebelumnya: microcomputer.

Zaman PC dimulai saat bandwidth masih sangat terbatas. Software dijalankan secara local, dan kebanyakan komputer saat itu tidak terkoneksi dengan network. Komputer, saat itu, benar-benar personal. Dan kemudian anda mampu membeli mesin kedua, dan yang pertama kali dilakukan adalah melakukan kustomisasi layar latar desktop. BBS, AOL dan the web mulai melakukan gerakan perubahan, namun kita tetap menganggap bahwa komputer kita adalah obyek yang terpisah dengan internet. Anda dapat menjalankan perangkat lunak (games, word processors, organizing tools, music players) pada mesin anda tanpa harus terkoneksi dengan web.

Saat ini semakin banyak kekuatan komputasi yang kita gunakan berasal dari sebuah CPU di Internet. Kita tidak lagi memiliki ‘rumah digital’ kita sendiri. Sebaliknya, kita kembali hidup bersama orang tua kita. Memang banyak juga keuntungan yang dapat diperoleh dengan kembali kerumah orang tua, khususnya dalam kondisi ekonomi dewasa ini. Anda dapat mengirit pengeluaran. Anda tidak perlu khawatir untuk menyelesaikan berbagai masalah anda sendiri karena selalu ada yang akan menyelesaikannya untuk anda. Dan dapat dipastikan anda tidak akan melakukan banyak kesalahan karena setiap langkah selalu diawasi.

Namun kebebasan penggunaan, yang merupakan definisi utama dari personal computing, tidak berkembang di kawasan parental computing. Hal ini bukan merupakan masalah yang muncul dari layanan Cloud. Justru ini adalah fitur layanan. Kebebasan yang hilang digantikan dengan kenyamanan yang kita dapatkan. Mungkin ini merupakan pertukaran yang sepadan. Atau mungkin ini adalah sesuatu yang terjadi begitu saja, yang pada saatnya nanti mungkin akan kita sesali, saat kita menyadari kenyataan bahwa privacy, keamanan dan otonomi yang kita miliki, telah kita serahkan saat melakukan sinkronisasi dokumen dan korespondensi antar komputer.

Alexis Madrigal, senior editor at The Atlantic

Sumber: http://www.theatlantic.com/technology/archive/2011/09/the-clouds-my-mom-cleaned-my-room-problem/245648/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: