Cloud Computing Perpustakaan Pertanian

17 Oct

Cloud computing atau komputasi awan ialah teknologi yang memanfaatkan layanan internet menggunakan pusat server yang bersifat virtual dengan tujuan pemeliharaan data dan aplikasi. Keberadaan komputasi awan jelas akan menimbulkan perubahan dalam cara kerja sistem teknologi informasi dalam sebuah organisasi. Hal ini karena komputasi awan melalui konsep virtualisasi, standarisasi dan fitur mendasar lainnya dapat mengurangi biaya Teknologi Informasi (TI), menyederhanakan pengelolaan layanan TI, dan mempercepat penghantaran layanan.

Secara umum arsitektur komputasi awan terdiri dari (1) Infrastructure as a Service (IaaS) (2) Platform as a Service (PaaS) dan (3) Software as a Service (SaaS).

PUSTAKA sebagai pusat perpustakaan pertanian terbesar di Indonesia tentunya memiliki potensi yang cukup besar dalam penerapan teknologi cloud computing di masa yang akan datang. Potensi-potensi yang tersedia seperti adanya tugas pokok dan fungsi yang jelas, jaringan antar lembaga lingkup KEMTAN, sumberdaya informasi, infrastruktur dan SDM tentunya dapat  menjadi kekuatan dalam pengembangan komputasi awan perpustakaan pertanian di Indonesia.

Dibutuhkan perencanaan yang matang dan terintegrasi antar semua pihak agar pengembangan komputasi awan perpustakaan pertanian dapat diwujudkan. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang konsep penerapan cloud computing di perpustakaan, sehingga di masa yang akan datang perpustakaan sebagai penyedia layanan informasi dapat memberikan layanan yang terbaik, mutakhir dan berkesinambungan kepada penggunanya.

Potensi PUSTAKA

Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian (PUSTAKA) sebagai salah satu unit kerja di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian  memiliki tugas pokok melaksanakan pengelolaan perpustakaan dan penyebarluasan informasi ilmu pengetahuan dan teknologi pertanian, dan berfungsi dalam:

  1. Perumusan program perpustakaan dan penyebaran informasi ilmu pengetahuan dan teknologi pertanian;
  2. Pengelolaan sumberdaya perpustakaan dan pengembangan aplikasi teknologi  informasi;
  3. Pembinaan sumberdaya perpustakaan  di lingkungan Departemen Pertanian;
  4. Pengelolaan dan pembinaan publikasi hasil penelitian dan pengembangan lintas komoditas pertanian;
  5. Penyebaran informasi teknologi dan hasil-hasil penelitian pertanian melalui pengembangan jaringan informasi dan promosi inovasi pertanian;
  6. Pengelolaan sarana instrumentasi teknologi informasi dan bahan pustaka; dan
  7. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga pusat.

Dengan tugas dan fungsi yang telah disebutkan di atas  tentunya PUSTAKA memiliki peluang dan potensi dalam menerapkan teknologi cloud computing.

Keberadaan perpustakaan unit kerja (UK) atau unit pelaksana teknis (UPT) di  Lingkup Kementerian Pertanian (KEMTAN) yang tersebar seluruh propinsi di Indonesia menjadi potensi besar bagi PUSTAKA (Gambar 1). Kemajuan dan peningkatan kinerja perpustakaan di daerah tentunya harus selalu dimonitor dengan cara melakukan fungsi pembinaan perpustakaan.  Hal ini penting dilakukan karena diperlukan adanya kesamaan persepsi baik teknis maupun administrasi bagaimana pengelolaan perpustakaan di lingkup Kementerian Pertanian.

Gambar 1. Penyebaran UK/UPT Lingkup KEMTAN

Ketersediaan sumberdaya informasi menjadi salah satu potensi lainnya yang penting bagi PUSTAKA. Berbagai jenis informasi pertanian dalam format yang beragam tentunya menjadi sumber rujukan yang sangat berharga bagi pencari informasi. PUSTAKA dapat menciptakan Agricultural Information Repository yang mencakup seluruh database perpustakaan UK/UPT lingkup KEMTAN.

Hal ini didukung dengan adanya Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 433/Kpts/HM.160/9/2003, Tanggal 4 September 2003 tentang Pengiriman Publikasi, Dokumentasi dan Informasi Tercetak/Terekam Bidang Pertanian Lingkup DEPTAN. Dalam SK tersebut dijelaskan bahwa Unit Kerja lingkup Departemen Pertanian yang menerbitkan publikasi  ilmiah dan populer,  tercetak atau terekam wajib mengirimkan sekurang-kurangnya 2 (dua) copy kepada Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian.

Infrastruktur teknologi informasi (TI) dan sumberdaya manusia (SDM) yang menjadi penggerak dalam teknologi cloud computing tentunya tidak dapat diabaikan begitu saja. Ketersediaan kedua potensi ini harus saling bersinergi sehingga dapat memperoleh hasil yang optimal dalam mewujudkan penerapan cloud computing.

Gambar 2. Infrastruktur Jaringan PUSTAKA

Konsep Cloud Computing PUSTAKA

Teknologi cloud computing tidak serta merta diterapkan begitu saja di perpustakaan.  Penerapannya membutuhkan suatu perencanaan yang jelas dan matang jika konsep teknologi tersebut akan diadopsi. Berdasarkan potensi yang dimiliki dan konsep-konsep teori sebelumnya PUSTAKA perlu memperhatikan beberapa hal sebelum mengaplikasikan teknologi cloud computing antara lain :  infrastruktur, keamanan data, dan sumberdaya manusia.

Infrastruktur

Sebagai penyedia informasi bagi pengguna di lingkup Kementerian Pertanian, maka dukungan infrastruktur yang kuat sangat diperlukan. PUSTAKA dapat melakukan penyewaan jaringan untuk akses internet.  Dengan demikian perpustakaan UK/UPT dapat melakukan koneksi ke PUSTAKA dengan baik.  Selain itu pula perlu direncanakan layanan Disaster Recovery Center (DRC). Hal ini dibutuhkan untuk mengantisipasi terjadinya gangguan pada pusat data.

Konsep DRC antar Sekretariat Badan Litbang Pertanian dan PUSTAKA sedang dalam proses pengembangan. Sekretariat akan menempatkan server-servernya di PUSTAKA sebagai backup demikian juga sebaliknya PUSTAKA akan menempatkan server-servernya di Sekretariat. Hal ini dikarenakan sering terputusnya jaringan internet oleh gangguan alam seperti petir.  Kondisi infrastruktur dan arsitektur Sistem Informasi/Teknologi Informasi yang ada saat ini dapat terlihat bahwa untuk menuju arah cloud sudah mulai berjalan namun belum sepenuhnya.

Gambar 3. Konsep Disaster Recovery Center antara Sekretariat dan PUSTAKA

Pada Platform as a Service (PaaS), PUSTAKA perlu menyiapkan fasilitas yang diberikan kepada UK/UPT untuk menyebarkan aplikasi yang dibuat UK/UPT  atau diperoleh ke infrastruktur komputasi awan menggunakan bahasa pemrograman dan peralatan yang didukung oleh provider. Tentunya hal ini untuk memudahkan dalam operasional pertukaran data dan informasi.  UK/UPT tidak mengelola atau mengendalikan infrastruktur awan yang mendasari termasuk jaringan, server, sistem operasi, atau penyimpanan, namun memiliki kontrol atas aplikasi disebarkan dan memungkinkan aplikasi melakukan hosting konfigurasi.

Sedangkan pada Software as a Service (SaaS), PUSTAKA dapat menyediakan fasilitas-fasilitas aplikasi atau software yang berkaitan dengan perpustakaan. Ketersediaan aplikasi seperti pengadaan, pengolahan, dan layanan tentunya akan sangat membantu petugas di perpustakaan UK/UPT dalam melakukan updating data. Bagi pengguna tentunya akan memudahkan dalam pencarian data dan informasi pertanian. Selain itu juga aplikasi-aplikasi yang dapat diakses dari berbagai perangkat klien melalui antarmuka seperti web browser (misalnya, email berbasis web).

Keamanan Data

Keamanan data menjadi begitu penting dalam penerapan cloud computing. PUSTAKA harus dapat menjamin keamanan data dan informasi yang tersimpan dalam servernya. Hal ini penting untuk menjaga kepercayaan para user dalam hal ini perpustakaan UK/UPT yang telah menyimpan data mereka.

Terkait dengan keamanan komputasi awan, Olzak (2010) menjelaskan bahwa menilai dan mengelola risiko yang berkaitan dengan layanan awan hanya penyesuaian untuk proses yang ada manajemen risiko. Melindungi data organisasi merupakan hal yang sangat penting bagi keseluruhan risiko keseimbangan aktivitas organisasi.

Pada Gambar 4 dijelaskan merupakan model sederhana dari batas risiko internal yang ada pada banyak organisasi. Analis keamanan melakukan penilaian risiko ketika TI desain dan mengimplementasikan solusi internal. Namun, batas risiko dikelola berhenti di firewall perimeter. Tidak ada proses formal terhadap ancaman model yang dibuat dengan menghubungkan ke awan penyedia layanan.

Gambar 4. Internal Risk Boundary

Jalan untuk integrasi komputasi awan yang aman adalah memperpanjang dari batas risiko, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2. Tujuannya untuk memperluas batas kemananan terhadap resiko komputasi awan baik didalam internal maupun eksternal organisasi. Tentunya akan mencakup semua hasil layanan secara keseluruhan sebagai nilai tambah dari core bisnis organisasi. (Olzak, 2010)

Gambar 5. Expanded Risk Boundary

Konsep keamanan layanan komputasi awan Fujitsu yang disebut “trusted-service Platform, merupakan konsep yang dapat diadopsi.  Menurut Mayasuki Okuhara (2010) dalam konsep tersebut dilakukan dengan membangun pemisahan secara logis dari  jaringan, operating system, dan lapisan data melalui teknologi virtualisasi yang canggih (Gambar 6)

Gambar 6. Separation of Cloud Computing Environments

Sumberdaya Manusia (SDM)

PUSTAKA perlu menyiapkan SDM yang memiliki ketrampilan dan keahlian dalam bidang TI.  Berdasarkan hasil critical mass SDM khusus unit TI setidaknya dibutuhkan adanya penambahan tenaga baru dengan kompetensi teknis  programmer 2 orang, networking 1 orang dan multimedia 1 orang. Kompetensi yang demikian diharapkan dapat mengelola dengan baik teknologi cloud computing yang akan diterapkan. Selain adanya pelatihan yang berkesinambungan tentunya menjadi hal harus direncanakan secara berkala. Upaya untuk mengubah pola berpikir/ mindset SDM yang ada agar dapat mampu bekerja secara terintegrasi perlu terus diupayakan.

Kesimpulan

PUSTAKA memiliki potensi yang cukup besar dalam menerapkan teknologi cloud computing di masa yang akan datang. Dengan tersedianya dan terintegrasinya potensi-potensi yang dimiliki PUSTAKA mulai dari tupoksi, jaringan antar lembaga lingkup KEMTAN, sumberdaya informasi, infrastruktur dan SDM tentunya dapat  menjadi kekuatan dalam penerapannya. Namun tetap diperlukan rencana yang cermat dan menyeluruh mengenai infrastruktur, keamanan data dan sumberdaya manusia. Serta tidak kalah pentingnya adalah dukungan internal dari penentu kebijakan sehingga memper-mudah dalam proses tercipatanya layanan komputasi awan perpustakaan pertanian di Indonesia.

 

 

Akhmad Syaikhu
Pustakawan Muda pada Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian (PUSTAKA)

Sumber: http://journal.ipb.ac.id/index.php/jpi/article/viewFile/1927/1124

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: