Indonesia Siap Menyambut Era ‘Komputasi Awan’

3 Nov

Teknologi cloud computing yang tengah menjadi tren global kini mulai mendapat perhatian serius di kalangan industri telematika Indonesia. Ada sejumlah alasan mengapa Indonesia harus mempersiapkan diri menyambut era ‘komputasi awan’ ini.

Menurut hasil kajian Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Informasi (LPPMI), industri di Indonesia cukup antusias menyikapi tren cloud computing. Setidaknya itu yang tergambar dari hasil sampel kajian terhadap 100 perusahaan di Indonesia yang bergerak di industri teknologi informasi dan komunikasi (TIK), aktivitas profesional, sosial, serta kesehatan.

“Mayoritas responden menganggap bahwa cloud computing bermanfaat dalam hal fleksibilitas dan mengurangi biaya dalam perspektif bisnis, serta menawarkan alokasi sumber daya yang dinamis berdasarkan perspektif teknis,” papar Direktur LPPMI, Kamilov Sagala dalam acara Indonesian Cloud Forum: Welcoming the Cloud Era, di Upperroom, Wisma Nusantara, Jakarta, Rabu (25/5/2011).

Perusahaan yang terlibat dalam penelitian ini adalah perusahaan regional (18,75%), nasional (31,25%), dan berskala global (50%) dengan rata-rata jumlah karyawan 101-500 orang (37,5%).

Terkait dengan teknologi informasi dan komunikasi, pekerja dalam perusahaan yang menangani TIK cukup variatif, namun mayoritas berjumlah kurang dari 5 karyawan (50%), dari rata-rata jumlah karyawan 51-100 pegawai.

Yang menarik adalah alokasi pekerja di bidang TIK, yang didedikasikan menangani cloud computing dimana mayoritas adalah nol (0) pekerja (50%), meski memang ada juga perusahaan yang mendedikasikan karyawan lebih dari 50 orang untuk menangani cloud computing (6,25%)

Jika cloud computing diimplementasikan, mayoritas responden akan menggunakan organisasi yang sudah ada (62,5%), meski ada juga yang berkeinginan untuk membentuk organisasi baru maupun meng-outsource implementasi cloud computing pada pihak ketiga (masing-masing 18,75%).

Kamilov juga memaparkan, hal-hal utama yang menjadi kekhawatiran responden ketika public cloud computing diimplementasikan, antara lain: masalah Security (31,9%), Reliability (27,65), Integrasi dengan legacy sistem (12,76%). Kemudian hal-hal utama yang menjadi concern responden ketika private cloud computing diimplementasikan: Reliability (20%), Integrasi dengan legacy sistem (20%), Security (17,77%)

Menjawab pertanyaan jika responden akan menggunakan pihak ketiga dalam penyediaan cloud computing, yang menjadi prioritas responden untuk dimasukkan dalam kontrak kerja sama: Network security requirement (16,66%), Service level agreements (15,38%), Quality of service guarantee (14,10%), Auditing activities and certification (14,10%).

“Dari hasil analisis data kami, mayoritas perusahaan maupun kantor pemerintahan belum mendedikasikan pekerja yang khusus menangani cloud computing. Kemudian, penyediaan cloud computing oleh pihak ketiga juga dimungkinkan sepanjang  keamanan jaringan, SLA, jaminan kualitas serta adanya audit dan sertifikasi yang memadai dari penyedia,” papar Kamilov.

Dirjen Aplikasi Informatika Kemenkominfo Ashwin Sasongko mengungkapkan, fakta menunjukkan sektor pemerintah menjadi salah satu penentu kesuksesan bisnis cloud computing di Indonesia.

“Ini bukan maksud pemerintah untuk men-drive dari aspek bisnisnya.   Berbagai publikasi dari berbagai perusahaan sudah menunjukkan, bahwa selama ini belanja TI sektor pemerintahan masih mendominasi dan cenderung terus meningkat tajam sehingga menjadi potensi bagi cloud computing,” katanya.

Diungkapkannya, dalam finalisasi RUU Konvergensi Telematika diharapkan bisnis cloud computing  dapat dimasukkan sebagai salah satu bahan pertimbangan dan pengaturannya.  Pengaturan diperlukan karena isu utama dari cloud computing adalah keamanan informasi.

“Yang paling pokok dari pengaturan cloud computing tersebut itu nantinya adalah tetap mengutamakan faktor kehati-hatian dari kemungkinan kegagalan cloud computing dan juga dalam mengakomodasi kepentingan industri domestik dari kemungkinan ofensif industri asing dengan dalih lebih compatible, harga bersaing dan keandalannya. Kami yakin jika industri domestik memperoleh peran yang cukup signifikan namun tetap dalam batas koridor hukum yang ada, mereka tentu dapat menunjukkan kemampuannya. Yang kami inginkan adalah adanya kemitraan asing dan domestik secara proporsional,” tegasnya

Direktur Wholesales & Enterprises Telkom Arief Yahya mengungkapkan, di era Informasi, Media, dan Edutainment (IME) sebagai pendorong bisnis Telekomunikasi, maka empat sektor menjadi andalan perseroan untuk memasok omset. Empat sektor itu adalah mobile broadband, Cloud Computing, Home Digital Environment, dan Machine to Machine.

“Telkom siap menjadi pemain utama dan pemimpin di bisinis Cloud Computing karena perseroan telah memiliki jaringan infrastruktur yang solid di seluruh nusantara. Bandwidth yang dimiliki Telkom tidak perlu diragukan lagi,” tegasnya.

Diungkapkannya, untuk Indonesia nilai pasar dari  Cloud Computing  memang masih kecil. Namun, tahun depan diprediksi mencapai Rp 2,1 triliun dengan sumbangan Software as a Services (SaaS) sebesar 40%. “Telkom sendiri menguasai pasar sekitar 70%,” tegasnya.

Planning & Development Director PT Aplikanusa Lintasarta Yudi Rulanto mengatakan, sebagai perusahaan yang biasa bermain di pasar retail dan korporasi juga siap menjadikan cloud computing sebagai salah satu alat mencari keuntungan. “Kami bisa menawarkan solusi Teknologi Informasi (TI) yang reliable dengan dukungan jaringan infrastruktur terpercaya bagi pengguna solusi dari Indosat grup,” katanya.

President Director IBM Indonesia Suryo Suwignjo mengungkapkan, sebagai agen perubahan cloud computing memang akan mengakselerasi kecepatan satu perusahaan untuk bersaing. Hal itu bisa dilihat dari terjadinya pengurangan biaya operasional sebesar 77 %, lebih cepat dalam memberikan nilai tambah sebesar 72 % dan meningkatkan reliabilits sebesar 50 persen.

“Kunci suksesnya cloud computing adalah Chief Information Officer (CIO) satu perusahaan harus menerapkannya dengan strategi yang tepat dan sesuai kebutuhan perusahaannya. Jika tidak bisa menjadi ancaman bagi kelangsungan TI di perusahaanitu,” katanya.

Director South Pacific Regional CIO Office Huawei Neo Teck Guan menyarankan sektor  mulai mengadopsi   cloud computing  agar  memberikan dampak dalam berinteraksi dengan masyarakat, pelaku usaha, pegawai, dan antara instansi pemerintahan.

“Jika menerapkan solusi TI dengan tepat maka pemerintah bisa memberikan one stop service ke masyarakat, meningkatkan iklim usaha dan menarik investor asing untuk datang. Sementara dari sisi produksi pegawai bisa diefisiensikan dan fokus pada layanan yang bernilai tambah. Sedangkan antar instansi terjadi kolaborasi yang bisa mengutilisasikan sumberdaya dimiliki,” jelasnya.

Country Director Cisco Indonesia  Ichawan F. Agus mengungkapkan dalam memberikan jasa Cloud Computing harus dilihat pola penerapan harga ditengah kondisi freemium di pasar. Freemium adalah permintaan pasar terhadap sesuatu dengan kualitas tinggi tetapi harga yang dibayar rendah. “Biasanya untuk pembeli informal dipikat dengan penggunaan gratis atau Ad Based, sedangkan untuk formal dengan kontrak. Jalan tengah dari kedua ini adalah membayar sesuai yang digunakan,” katanya.

Sementara Kepala Bidang Sistem Elektronika Pusat TIK BPPT  Mohammad Mustafa Sarinanto, tantangan lainnya ialah ketersediaan akses.

Menurut Sarinanto, era baru cloud computing ini akan didukung oleh transformasi besar-besaran perangkat mobile broadband yang mulai menjadi tren seperti notebook/netbook hingga komputer tablet.

“Dalam lima tahun ke depan, 25% device komputasi akan berupa wireless tablet atau netbook. Hari ini, pertumbuhan desktop 5% dan notebook 17%, turun dari 25%. Market share Windows di mobile device sebesar 5%, sedangkan Android mencapai 20%. Di 2020, orang tidak akan bekerja dengan software yang berjalan di PC mereka, melainkan melalui internet dan aplikasi berbasis cloud dengan device mobile mereka,” katanya.

Praktisi telematika Mochamad James Falahuddin mengingatkan ditengah mulai maraknya layanan cloud computing maka mendesak hadirnya peran cloud auditor yang berperan memeriksa standar keamanan, mengukur layanan yang diselenggarakan, dan menghitung dampak pembajakan. “Peran regulator diharapkan dalam hal ini. Soalnya satu solusi itu   rentan ditiru layanannya kala dilempar  ke pasar,” tegasnya.

Sumber: http://www.indonesiacloud.org/index.php/news/pr/92-press-release-1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: