Kemanan Data, tantangan terbesar Komputasi Awan

16 Nov

Keamanan data adalah tantangan terbesar saat ini untuk adopsi komputasi awan pada organisasi-organisasi di kawasan Asia Pasifik.

Hasil dari studi “Cloud Computing in Asia-Pacific: The Annual cloud Maturity Index,” yang digelar Forrester Cousulting menunjukkan bahwa 74% dari responden menyoroti hal tersebut. Angka tersebut menggeser kecemasan terhadap security (secara umum), yang tahun lalu menjadi sorotan utama.

Masalah letak data dan kehilangan kendali atasnya menjadi perhatian seksama di Australia, Singapura dan Malaysia.

Penelitian ini juga mengindikasikan bahwa integrasi dengan sistem berjalan tetap menjadi salah satu hambatan utama adopsi cloud, terlihat dari pendapat 68% responden. Tantangan lain yang banyak mendapat sorotan adalah kurangnya interoperability antar clouds (57%), kekhawatiran atas vendor lock-in (59%) dan kekurang-matangan fungsi-fungsi cloud management (57%). Namun kurangnya pengetahuan dan pengertian atas komputasi awan jauh menurun dibanding tahun lalu.

Andrew Dutton, senior vice president dan general manager, VMware Asia Pacific Japan, menyatakan: “Perusahaan-perusahaan di Asia-Pasifik dan Jepang jelas tampat telah lebih yakin dengan komputasi awan dibandingkan tahun lalu. Namun beberapa kendala masih menghambat mereka untuk dapat mengambil manfaat sepenuhnya dari teknologi ini. Kami menyadari sepenuhnya kondisi tersebut”.

Relevansi cloud dan dunia usaha

Dunia usaha semakin menyadari relevansi komputasi awan dengan kebutuhan mereka, khususnya antara perusahaan besar. Berdasarkan survey ini, yang merupakan pengamatan tahun kedua, adopsi komputasi awan telah mengalami percepatan di kawasan APJ (Asia-Pacific-Japan), dimana hampir 90% responden mengakui relevansi teknologi ini dengan bidang usaha mereka.
Studi ini menunjukkan bahwa 64% perusahaan regional, telah atau sedang merencanakan, menggunakan tekonologi cloud, meningkat dari 59% tahun lalu. Organisasi di Australia memimpin dalam jumlah adopsi cloud, dengan 43% telah menggunakan teknologi ini. Korea Selatan dan China memimpin dalam hal perencanaan penggunaan, dengan 48% dan 48% organisasi disana merencanakan akan mengimplementasi teknologi ini dalam priode 18 bulan kedepan.

Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa pada kawasan ini, keputusan untuk mengadopsi komputasi awan lebih banyak diambil oleh para CEO, bukan hanya CIO, yang mengindikasikan bahwa top management lebih menyakini bahwa berinvestasi di teknologi baru dapat memberikan penyempurnaan pada efesiensi dan produktifitas usaha.

Berdasarkan hasil survey ini, kebanyakan pemain dibidang IT, seperti telekomunikasi dan perusahaan-perusahaan berbasis teknologi lainnya, memimpin dalam hal pengadopsian teknologi cloud. Sementara untuk lembaga-lembaga pemerintahan dan perusahaan-perusahaan asuransi memimpin dalam bagian perencanaan penggunaan komputasi awan. Tingkat adopsi cloud meningkat pada organisasi-organisasi besar, khususnya yang dengan pegawai 10 ribu atau lebih, dengan angka 47%.

Cost efficiency, on-demand storage, networking

Penekanan biaya tetap menjadi pendorong utama adopsi teknologi awan pada perusahaan-perusahaan di kawasan Asia Pasifik, dengan angka 55%, turun dari tahun lalu yang mencapai 57%. Namun perusahaan-perusahaan besar lebih melihat cloud sebagai investasi strategis (49%) dibanding sebagai sarana penghematan.

Penekanan biaya perangkat keras infrastruktur (76%) dan penyederhanaan sumber daya/server provisioning (75%) tetap menjadi pertimbangan utama penggunaan teknologi ini, dengan permintaan atas perangkat cloud management tertinggi di Singapore, Malaysia dan Thailand.
Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa 80% dari organisasi kawasan APJ menghubungkan komputasi awan dengan on-demand storage dan networking. China mendominasi hal ini (84%) disusul Singapura dan Jepang, masing-masing 82%.

Dutton menyatakan: “Saat perusahaan mengupayakan efesiensi biaya, fungsi utilitas penyimpanan terukur dan platform jaringan (utility-based scalable storage and networking platforms) di cloud akan sangat membantu mereka untuk menangani tuntutan tak terduga terhadap kapasitas”.

Hybrid cloud mulai dilirik

Sementara 32% responden merasa nyaman dengan cloud privat, lebih banyak perusahaan memilih untuk meluncurkan baik cloud privat maupun publik (41%), sedikit meningkat dari angka tahun lalu (38%). Cloud publik adalah yang paling kurang diminati, karena kebanyakan perusahaan pada kawasan ini menilainya kurang aman untuk menjalankan aplikasi dan data perusahaan. Khususnya pada sektor perbankan, keuangan dan asuransi, aplikasi cloud privat dirasa lebih cocok.

Penyimpanan /storage (73%) menjadi fungsi utama dari cloud privat, dengan perusahaan-perusahaan di Thailand (82%) dan China (79%) condong untuk menggunakan cloud privat sebagai storage, sementara pendaya-gunaan server menjadi fungsi kedua. Cloud publik adalah pilihan utama untuk fungsi Web conferencing, instant messaging dan collaboration, juga email.

“Perusahaan memilih model cloud hybrid untuk mendapatkan efesiensi dan ketangkasan dalam bisnis, tanpa mengorbankan penguasaan dan privasi data.” Kata Dutton. “Ketersediaan platform infrastruktur cloud, dengan model menejemen dan layanan aplikasi yang menjembatani antara cloud privat dan publik untuk menghantarkan data dengan sempurna serta keringkasan aplikasi, akan sangat penting dalam mencapai keberhasilan implementasi cloud.”

Virtualisasi sebagai dasar

Sekitar 78% dari organisasi di kawasan ini mengganggap virtualisasi sebagai bagian penting dari komputasi awan. Adopsi virtualisasi di Asia Pasifik dipimpin oleh Australia (91%) dan Jepang (80%). Berdasarkan bidang usaha, adopsi virtualisasi tertinggi di asuransi (83%) dan sektor perbankan/jasa layanan keuangan (81%)

Virtualisasi desktop berlanjut menjadi pertimbangan pada 64% dari perusahaan-perusahaan, saat mereka bermaksud untuk mem-virtualisasi aplikasi penting bisnis mereka. Perusahaan-perusahaan di Korea Selatan memimpin di bidang ini , dengan 88% diindikasikan telah merencanakan untuk melakukan virtualisasi, diikuti China (69%) dan Jepang (68%). Survey ini juga mengungkapkan meningkatnya minat atas virtualisasi server dan data center diantara perusahaan-perusahaan di Asia Pasifik.

Dutton berkata: “Saat konsumerisasi IT semakin menyebar di kawasan ini, perusahaan akan menyadari bahwa virtualisasi desktop dapat memberikan fleksibilitas dalam upaya penghantaran aplikasi dan data kepada para pengguna, kapanpun dan dimanapun mereka berada, dan melalui akses dengan alat apapun.”

 

Sumber: http://www.asiacloudforum.com/content/study-cloud-data-privacy-top-apac-biz-concerns?section=news&utm_source=lyris&utm_medium=newsletter&utm_campaign=cloud

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: