Bahu Membahu Demi Sukses Cloud di Indonesia

18 Nov

Dahulu, cloud computing masih asing di telinga masyarakat Indonesia. Namun kini, teknologi berbagi sumber daya lewat jaringan internet publik maupun privat ini mulai sering terdengar gaungnya.

Ya, wajar saja jika cloud mulai ramai diperbincangkan. Sebab lewat teknologi ini, biaya yang dikeluarkan untuk infrastruktur, software, dan aplikasi, tak lagi membebankan. Semua sudah disediakan oleh penyedia jasa cloud, tinggal kita pintar-pintar mengatur beban biaya operasional.

Skema cloud sendiri, sebenarnya tanpa disadari sudah kerap kita gunakan sehari-hari. Misalnya, saat kita menggunakan Google Documents. Atau saat kita bermain game Mafia Wars dan Farmville di Facebook.

Dan skema teknologi cloud ini pun, perlahan juga mulai banyak digunakan oleh perusahaan dari kelas enterprise hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Semua demi alasan yang sama: efisiensi.

Dalam sebuah survei, banyak kalangan mempercayai cloud computing akan mengurangi biaya operasional untuk TI sebesar 77%, lebih cepat dalam memberikan nilai tambah sebesar 72%, dan meningkatkan reliabilitas sebesar 50%.

Untuk alasan itu pula, lembaga riset Springboard Research memproyeksikan, cloud computing akan menjadi sebuah kebutuhan untuk organisasi bisnis, pemerintah, maupun lembaga nirlaba di Indonesia. Diperkirakan dalam waktu 12 hingga 18 bulan ke depan, inovasi ini akan mencatat pertumbuhan penting di Indonesia.

Hasil riset lembaga ini juga menunjukkan, 50% dari 114 organisasi di Indonesia telah menggunakan atau dalam tahap perencanaan untuk inisiatif cloud computing. Di antara perusahaan-perusahaan skala besar di Indonesia, animo untuk beralih menggunakan komputasi awan tersebut meningkat hingga 68%.

Bahu Membahu

Untuk menjadikan cloud sebagai tulang punggung layanan baru, tentu tak semudah membalikkan telapak tangan. Terlebih, dari sisi regulasi, cloud computing belum dimasukkan dalam tataran aturan — meski perencanaannya telah diapungkan.

Namun yang terpenting, menurut praktisi keamanan jaringan cloud, Goh Chee Hoh, semua pihak telah menyadari pentingnya cloud computing sebagai layanan yang dibutuhkan.

“Itu sebabnya, semua stakeholder industri telematika di Indonesia perlu bahu membahu untuk mengedukasi manfaat cloud computing. Baik itu dari sisi benefit-nya, maupun dari ancaman keamanan yang bisa saja terjadi,” jelasnya, saat berbincang dengan detikINET.

Hal yang sama juga dikatakan James Henderson, bos salah satu perusahaan piranti digital yang juga menggeluti produk berbasis cloud. Menurutnya, Indonesia punya potensi tumbuh besar bersama cloud jika kebutuhan infrastruktur terpenuhi.

“Saya bisa melihat dalam lima tahun ke depan, Indonesia bisa menjadi leader di Asia dengan pertumbuhan ekonomi signifikan dengan dukungan teknologi yang tepat. Ya, salah satunya dengan mengandalkan teknologi cloud computing ini,” ujarnya.

Potensi Besar

Potensi bisnis cloud juga sudah dilihat Telkom jauh-jauh hari sejak mengakuisisi Sigma. Perusahaan data center itu memang dipersiapkan Telkom untuk mengarungi bisnis cloud seiring upayanya mengembangkan bisnis berbasis TIME — telecommunication, information, media, dan edutainment.

“Kami telah mempersiapkan data center dengan investasi Rp 400 miliar untuk mengembangkan lini bisnis berbasis cloud computing di Indonesia. Sasaran dari bisnis ini bukan hanya perusahaan dalam negeri, namun juga raksasa internet dunia seperti Google dan Research in Motion (RIM), produsen BlackBerry,” ungkap Presiden Direktur Telkom Sigma, Rizkan Chandra.

Ekspansi Telkom di pasar cloud computing tak lain untuk mendukung target omzet Rp 600 miliar di akhir 2011 ini.Telkom Sigma sendiri menargetkan pertumbuhan pendapatan 16% melalui ekspansi di luar pasar keuangan dan perbankan.

“Kami sudah berbicara cukup jauh dengan Google, sejauh ini hasilnya cukup baik. Jika kami sudah bisa memenuhi kebutuhan sampai level tier-4-nya Google, maka kebutuhan lain seperti untuk RIM dengan jaringan cloud BlackBerry-nya, rasanya tak ada masalah lagi,” ungkapnya.

Selain dari pemain global, Telkom Sigma juga membidik perusahaan UMKM dengan omzet Rp 100 miliar. Saat ini, pelanggan cloud computing terbesar dari Telkom Sigma datang dari segmen perbankan, yaitu dari Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di seluruh Indonesia.

Bisa Dimanfaatkan Startup

Bagi startup yang baru akan mengembangkan produknya, para calon pengusaha tersebut akan mendapatkan empat kelebihan cloud computing yakni efisien, fleksibel, accessible, dan tidak perlu dipelajari lagi.

Dia menambahkan dinamika industri teknologi sangat cepat berubah. Sebelum ada cloud computing, pengusaha wajib memikir matang-matang sebelum melakukan investasi.

Sebab, ada kalanya ketika investasi dilakukan justru berbanding terbalik dengan capaian yang diharapkan. Dengan cloud computing, efisiensi biaya investasi bisa dilakukan karena biaya yang dikeluarkan hanya pada apa yang dibutuhkan.(api)

 

Sumber: http://www.sby.dnet.net.id/dnews/september-2011/article-bahu-membahu-demi-sukses-cloud-di-indonesia-74.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: