Apa kabar Cloud Computing 2.0

24 Feb

Dalam sebuah diskusi cloud computing yang digelar Dynalabs beberapa hari lalu di Jakarta, Winston Damarillo – CEO Morphlabs secara tersirat menggunakan istilah Cloud 2.0, yang akan menjadi versi lanjutan dari teknologi cloud. Lepas dari jalur perkembangan teknologi yang tidak mungkin diabaikan, muncul pertanyaan yang cukup menggelitik, apakah cloud 2.0 itu memang sebuah versi yang lebih baru, yang lebih sempurna dari cloud computing, atau sekedar menambah atau melengkapi kemampuannya?

Seperti kita alami bersama, beberapa tahun silam berkembang istilah web 2.0, yang diklaim beberapa pihak sebagai sebuah revolusi internet. Kenyataannya? Sekalipun web 2.0 mengajukan beberapa kemudahan seperti social networking, blogging, dynamic participation, user generated content, dll, namun harus diakui, paling tidak dari sisi teknologi, web 2.0 tidak banyak menawarkan revolusi. Pertanyaannya kemudian, apakah cloud 2.0 akan menjalani setapak yang serupa?

Hari ini Cloud 2.0 masih menjadi sebuah wacana yang hangat diperdebatkan demi mencapai sebuah kesepakatan definitif.  Chris Czarnecki CTO dari En-lighten Technology menekankan kepada pengembangan fungsi kolaborasi dalam cloud. Chris mendiskripsikan cloud 2.0 sebagai SaaS yang mengintegrasi fitur social networking (yang diadopsi dari web 2.0) kedalam aplikasi-aplikasi berbasis cloud.  John Soat dari informationweek lebih menyoroti pengembangan fungsi hybrid pada cloud. Menurutnya cloud 2.0 adalah matangnya fungsi hybrid dimana setiap pengguna cloud dapat secara lebih leluasa melakukan kombinasi antara private cloud dan public cloud, yang tentunya memperkuat devinisi dasar cloud yang fleksibel dan agile. Sementara Larry Ellison-CEO oracle-lebih menitik beratkan kepada kematangan teknologi pada cloud 2.0. Menggunakan istilah Virtualized Elastic Cloud Technology, mereka mengajukan perkembangan teknologi public cloud pada sisi security, dengan memperkuat isolasi namun tetap mempertahankan elastisitas dan tentunya sisi virtualisasinya.

Dari tiga penjabaran diatas kita dapat melihat masih ada banyak perdebatan untuk cloud 2.0. Sisi positifnya, diharapkan diskusi yang berkembang akan menghasilkan manfaat bagi masyarakat dengan melahirkan sesuatu yang lebih baik dan lebih sempurna pada teknologi cloud computing. Di sisi lain, yang patut disayangkan, semakin populernya istilah cloud 2.0 telah “menyiram bensin” pada “api” cloud washing. Beberapa pihak telah mendompleng  popularitas istilah tersebut untuk meraih keuntungan pribadi dengan membungkus ulang teknologi usang mereka dengan lebel yang lebih mengundang, Cloud 2.0.

megadigi

Sumber:

http://cloud-computing.learningtree.com/2010/05/24/cloud-2-0-the-rapid-evolution-of-the-cloud/

http://www.informationweek.com/blog/outsourcing/229202747

http://www.zdnet.com/blog/btl/oracles-ellison-were-cloud-20-multitenancy-religion-a-crock/51326

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: