Terlambatkah OpenStack?

5 Sep

Akhir-akhir ini ada banyak berita yang beredar seputar OpenStack, khususnya saat dua raksasa teknologi TI, IBM dan Red Hat, bergabung dalam barisan OpenStack Foundation sebagai Platinum members, yang melengkapi kekuatan organisasi tersebut setelah sebelumnya AT&T, Canonical, Hewlett-Packard, Nebula, Rackspace, dan Suse juga menjadi anggota. Namun muncul pula pendapat di beberapa lini bahwa proyek tersebut agak terlambat.

Dua tahun setelah Rackspace dan NASA melansir OpenStack, sebagai upaya untuk menyaingi dominasi  Amazon Web Sevices, AWS terus berkembang pesat dan semakin luas jangkauannya, termasuk di sisi layanan yang berfokus pada enterprise. Muncul juga kekhawatiran diantara para pegiat OpenStack bahwa terlalu banyak “koki” justru akan mempersulit upaya tersebut. Memang diharapkan OpenStack dapat memposisikan diri sebagai  “Linux of the cloud,” namun harapan ini dapat gagal, berbalik menjadi terlalu fragmented, karena masing-masing vendor memiliki resep-resep tersediri dalam mengembangkan OpenStack. Kemungkinan terburuknya, OpenStack justru akan menjadi berbayar seperti Unix, alih-alih jadi open source yang diinginkan seperti Linux.

Bukan hal mudah untuk menyaingi AWS dan VMware

AWS jelas mencermati ambisi OpenStack untuk menguasai public, private maupun cloud hybrid. Mereka melahirkan beberapa inovasi yang membuat AWS lebih nyaman bagi dunia bisnis, yang punya kekhawatiran untuk menempatkan data dan aplikasi mereka pada shared public cloud. API AWS yang menggandeng Eucalyptus, pemain open-source private cloud pesaing Openstack, adalah contoh nyata gerakan ini, juga AWS’s Storage Gateway dan Simple Workflow Services.

Robert Shear, pemimpin Greystone Solutions – Boston, adalah contoh pengguna AWS yang tidak bergeming atas kondisi persaingan tersebut. “Bisa saja OpenStack akan menjadi ‘Linux of the cloud’ namun saat semua vendor berlomba, justru akan memberikan keuntungan pada Open Standart. Faktanya adalah, setiap pemilihan vendor akan berkait langsung dengan komitmen. Sejatinya pada AWS stack, para pengguna telah mendapat banyak pilihan saat harus memutuskan untuk memilih antara portabilitas atau fugsional. Dan dengan AWS, the benefits of scale dan cost-leadership sangat jelas dan dapat langsung diraih,” katanya.

VMware adalah sasaran lain dari banyak pemain OpenStack, yang berharap untuk menggunakan platform cloud sebagai sarana untuk menghindari dominasi kekuatan sang raksasa virtulaisasi pada ruang-ruang server dan mengalihkannya ke cloud. Salah satunya adalah Hewlett-Packard yang melansir public cloud berbasis OpenStack, yang mengandalkan KVM virtualization.

Dan banyak yang menyaksikan pergerakan Citrix dengan CloudStack-nya. Mantan pendukung OpenStack itu belum lama ini meluncurkan proyek mereka dalam Apache Software Foundation, termotivasi oleh ambisi Citrix untuk mendorong Xen sebagai pilihan virtualisasi untuk cloud. Alasan Citrix untuk proyek mereka tersebut adalah untuk menghambat perkembangan OpenStack namun juga tidak mau berpihak pada API AWS, tapi  resminya mereka menyatakan lebih berkepentingan untuk bersaing dengan VMware ketimbang dengan OpenStack.

Keraguan terhadap Amazon API

Berpendapat bahwa OpenStack telah kalah sebelum bertanding melawan AWS sangat bergantung kepada keyakinan bahwa API AWS adalah solusi paling paripurna untuk cloud computing. Hal ini masih diperdebatkan. Beberapa pendapat dari kubu OpenStack, termasuk Rackspace, beranggapan bahwa Amazon API tidaklah menjadi satu-satunya langkah yang tepat dalam cloud. Dalam sebuah wawancara dengan CTO Rackspace, John Engates, menyatakan bahwa implementasi OpenStack di Rackspace tidak dan tidak harus men-support API AWS.

“ Kami tidak perlu untuk compatible dengan API AWS,” katanya. “Memang ada beberapa hal di OpenStack yang compatible dengan API Amazon namun Rackspace tidak menekankan  kompatibilitas pada public cloud … berpatokan pada API AWS akan membatasi inovasi. Jika Anda harus terus bergantung pada Amazon baru kemudian melakukan reverse engineering, dimana faktor inovasinya? Kami mau memacu inovasi.”

Namun tetap pertanyaan terbesar dari mereka yang tertarik dengan OpenStack adalah, mengapa sampai saat ini Rackspace belum meluncurkan production version dari platform tersebut. Hal ini tercermin dalam komentar Keith Townshend pada gigaom.com tentang implementasi Rackspace: “Setelah dua tahun berjalan, harusnya mereka sudah punya produk yang siap, sekalipun masih versi beta.  Karena pasar tidak akan menunggu.”  Selanjutnya sang chief architect Lockheed Martin Information Systems and Global Solutions itu menjelaskan: “Saya pikir tidak ada kata terlalu terlambat, namun memang terlambat… salah satu yang juga terlambat adalah CloudStack. Jika hari ini juga kita membutuhkan solusi, apa opsi yang kita miliki?  Saya tau ini bukan vaporware namun terasa seperti itu.”

Pemain OpenStack yang lain, Randy Bias, CTO dari Cloudscaling, menyatakan bahwa wacana tentang produksi atau tidak produksi adalah sebuah perdebatan yang terlalu dibesar-besarkan. Menurutnya, production system adalah sesuatu yang telah berjalan dengan aplikasi milik customer, sekalipun masih dalam tahap beta atau trial. Menggunakan pemahaman tersebut artinya cloud-nya HP, private cloud berbasis OpenStack milik AT&T, Internap dan beragam implementasi OpenStack lain sudah masuk dalam kategori production.

Keraguan enterprise cloud untungkan OpenStack

Kondisi bahwa banyak bisnis yang masih ragu untuk beralih ke cloud menguntungkan OpenStack. Untuk beberapa perusahaan, dominasi AWS pada layanan dan fungsionalitas cloud sangat mengganggu. Mereka-mereka yang telah merasakan ketidaknyamanan dominasi Microsoft di bidang desktop tentunya tidak ingin hal yang sama akan berulang di cloud.

Para pemain OpenStack berusaha untuk memainkan peran terbaik, mengambil keuntungan dari kondisi tersebut. CEO Rackspace, Lanham Napier, mengatakan pada CRN bahwa “Sistem Amazon yang proprietary akan mengakibatkan cutomer lock-in.”

Hal ini berarti, masih ada harapan untuk keberhasilan OpenStack, jika pihak-pihak yang terlibat dapat melansir cloud mereka dengan baik tanpa merusak codebase.

OpenStack “jelas masih memiliki peluang karena pasar masih belum bergerak,” kata James Staten, Forrester VP and Principal Analyst. Dan dia menekankan bahwa pasar menginginkan opsi open source, sama seperti mereka ingin adanya alternatif open-souce untuk Microsoft Windows. “Sekalipun (OpenStack) masih belum siap untuk fase produksi, langkah mereka pastinya sudah semakin dekat,” sambungnya lagi. Dia menambahkan bahwa masalah terletak pada kelambanan OpenStack, “hal ini akan membuka peluang buat Eucalyptus dan Citrix untuk menyusul menjadi pesaing,” tukasnya kemudian.

 

sumber: http://gigaom.com/cloud/is-it-too-late-for-openstack/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: